PKL Lombok [PART 1], Dilema antara Cinta, Ilmu dan Perjuangan


Alhamdulillahi, saya beserta teman-teman jurusan BSA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dapat melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kec. Kediri Kab. Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat.  PKL kami dimulai pada tanggal 16 Juli 2018, namun sejak tanggal 11 Juli 2018 Mahasiswa PKL sudah mulai berada di kawasan Pondok teresebut. kami melakukan PKL mulai tanggal 16 Juli sampai tanggal 14 Agustus 2018. kegiatan kami selama sebulan tentunya melakukan kegiatan belajar mengajar setiap minggunya. saya sendiri mengajar mata pelajaran bahasa Arab untuk kelas VIII D, E dan F.
Pada minggu pertama setibanya kami di Pondok, kami melakukan tahap pengelanan terhadap lembaga tersebut. jika kita melihat dari aspek Sejarah yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim telah mampu mendirikan banyak Instansi dalam kurun waktu yang begitu cepat. banyak Instansi yang didirikan oleh yayasan ini diantaranya adalah: Madrasah Tsanawiyah Dakwah Islamiyah Putra dan Putri, Mts Dakwah Islamiyah Khusus Putra dan Putri, MA Dakwah Islamiyah Putra dan Putri, MA Dakwah Islamiyah Khusus Putra dan Putri, SMK Dakwah Islamiyah Putra dan Putri, Institut Agama Islam Nurul Hakim, taman kanak-kanak dan lain sebagainya.
Kami melakukan PKL di MTs Dakwah Islamiyah Nurul Hakim Putri dan Putra sesuai dengan tanggungjawab masing-masing. setelah itu kami mengunjungi para pimpinan-pimpinan yayasan untuk meminta izin pelaksanaan PKL dsekaligus penerimaan mahasiswa PKL UIN Malang. disamping itu juga, pada minggu pertama kami masih tahap perkenalan terhadap kegiatan harian para siswa dan penentuan Guru Pamong selaku guru pembimbing kami.  setelah mengetahui semua runtuttan tugas yang diberikan kami pun menyiapkan materi ajar menyesuaikan dengan pedoman pembelajaran bahasa arab pada madrasah tersebut yaitu buku bahasa arab dengan menggunakan pendekatan Saintifik.
Pada minggu kedua, kami mulai melakukan kegiatan pembelajaran. pada pertemuan pertama ini saya gunakan untuk memperkenalkan diri dan mengetahui seberapa jauh tingkat kepahaman mereka dalam pembelajaran bahasa arab dan bagaimana antusias mereka dalam pembelajaran bahasa arab.  perlu diketahui Pondok Pesantren Nurul Hakim ini sangat terkenal dengan Bi’ah Lughawiyyah nya, hal ini dapat kita ketahui bagaimana para siswa saling berkomunikasi dalam keseharianya. ditambah lagi, dengan program-program yang dicetuskan oleh instansi yaitu kegiatan Muhadatsah setiap harinya yaitu 15 menit sebelum masuk ke kelas para siswa wajib berkumpul di halaman dan mengikuti tutor bahasa arab dengan dialog dan mufrodat yang diajarkan, lalu para siswa wajib mempraktekan terhadap temen sebelahnya.
Kami juga memiliki tugas tambahan yaitu membantu para staf di Perpustakaan, karena memasuki tahun ajaran baru maka pihak sekolah mendata banyak buku baru baik kelas VII VIII dan IX. Maka dari itu ketika kami sudah tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar kami membantu untuk mendata sekaligus memberi identitas pada buku tersebut mulai dari menata dan menyetampel buku tersebut. Disamping itu juga, kami mengurus bagian peminjaman, yaitu mendata buku yang di pinjam oleh siswa ataupun guru yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Pada minggu ketiga, saya mulai menemukan metode dan kesulitan siswa dalam pembelajaran bahasa arab atas bimbingan guru pamong ustadz Mujahiddin. pada siswa yang saya ajar terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki diantaranya: para siswa mampu melakukan percakapan bahasa Arab dengan baik antar sesama temanya karena telah dibiasakan dalam rutinitas keseharianya berbicara bahasa arab disamping itu para siswa juga sangat aktif dalam menanggapi tugas yang guru ajarkan dan diskusi di kelas. namun ada beberapa hal yang perlu di perhatikan bahwa ada sebagian siswa yang masih belum bisa membaca maupun menulis bahasa arab secara tepat. maka dari itu perlu melakukan metode yang tepat untuk bisa melatih maharah qiraah dan Kitabah para siswa. hal ini dapat saya ketahui ketika menguji beberapa siswa untuk maju kedepan membaca tulisan bahasa arab dan memberi tugas maharah kitabah kepada para siswa.
Ketika saya konsultasikan ke pihak sekolah, ternyata memang benar adanya, ustadz Mujahiddin selaku guru bahasa arab memang membenarkan hal tersebut. jadi, pihak sekolah sendiri memiliki metode pengajaran sebagai berikut yaitu membiasakan siswa kelas VII dengan Mufrodat bahasa arab saja, jadi pada pembelajran bahasa arab pada kelas VII pihak sekolah lebih memfokuskan pada penguasaan mufrodat sekaligus memperkenalkan bahasa arab karena adanya siswa baru yang berasal dari sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yang belum menerima pembelajaran bahasa arab. lalu untuk kelas VIII pihak madrasah memfokuskan pembelajaran bahasa arab dalam maharah kalam, setelah para siswa dapat menguasai banyak kosakata yang diajarkan pada kelas VII, maka dari itu diharapkan para siswa mampu menyusun kalimat-kalimat sederhana dari kosakata yang telah dipelajarinya. pada kelas IX para siswa di fokuskan dalam hal Kitabah, yaitu bagaimana para siswa mampu menyusun karangan-karangan sederhana sesuai dengan kaidah bahasa arab.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika melakukan kegiatan belajar mengajar tersebut mulai dari mengajarkan bahasa arab dengan menyenangkan, menemukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan para siswa, membuat permainan bahasa dan yel-yel untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar lebih paham dan menyenangkan. disamping itu juga kami bisa tau bagaimana proses pendataan buku dan memberi identitas buku baru yang terdapat dalam perpustakaan.
Pada tanggal 5 agustus 2018 pada pagi hari terjadi gempa 6.4 SR di lombok, semenjak kejadian tersebut, kegiatan pembelajaran di madrasah sudah tidak efessien lagi. walaupun pihak sekolah tetap membuat kebijakan agar kegiatan KBM tetap dilaksanakan, tetapi pada tangggal 9 agustus gempa bumi berskala 7 SR terjadi lagi di Lombok Utara, akhirnya pihak sekolah pun memutuskan untuk meliburkan sekolah karena banyaknya orang tua wali yang khawatir akan kondisi anaknya tersebut. Pasca kejadian tersebut maka kami mahasiswa PKL mengambil keputusan untuk melakukan aksi pengglangan dana untuk korban gempa bumi di Lombok, selama 3 hari kami lakukan penggalangan dana dan terkumpul sekitar Rp. 10.000.00. Dana tersebut pun kami serahkan kepada pihak yayasan yang langsung dibelanjakan untuk keperluan yang dibutuhkan korban gempa lombok.
Pada minggu keempat ini, kami lebih memfokuskan pada penggalangan dana dan Trauma healing terhadap para siswa yang masih tinggal di pondok. tepat pada tanggal 12 Agustus 2018 perwakilan dari Mahasiswa PKL turut berpartisipasi untuk menjadi relawan gempa bumi. Pihak yayasan memberangkatkan sebuah unit mobil yang berisi bantuan yang akan disalurkan kepada korban gempa. beberapa tempat yang kami kunjungi waktu itu yaitu di Lombok utara terdapat kecamatan Gangga, Pamenang dan Tanjung sedangkan di Lombok Timur yaitu kecamatan Bayan. Trauma healing yang kami lakukan adalah memberi motivasi kepada para siswa dan memberi hiburan berupa permainan-permainan agar para siswa tidak trauma lagi.
Tepat pada 13 agustus kami mengunjungi pihak lembaga untuk memohon pamit sekaligus pelepasan mahasiswa PKL, karena melihat kondisi yang sudah tidak kondusif lagi untuk melakukan kegiatan pembelajaran maka pihak kampus pun melakukan penarikan terhadap mahasiswa PKL di Lombok dan pada tanggal 14 Agustus 2018 kami kembali ke kota Malang.
Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkaan tidak hanya dalam kegiatan pembelajaran tetapi juga lainya seperti bagaimana para asatidz memperjuangkan madrasah agar tetap eksistensi dan terus berkontribusi dalam dakwah islam, disamping itu juga bagaimana mereka mempertahankan bi’ah lughawiyah yang ada di pondok tersebut. Disamping itu juga kami belajar untuk saling peduli terhadap korban gempa bumi lombok, merasakan dan terlibat langsung dalam menjunjung tiggi nilai kemanusiaan tersebut. wallahu a’lam bis showab.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar