Cerpen: Taman Cinta


            Malam itu penuh dengan kesunyian, hembusan angin yang penuh akan kesedihan, langit pun diam membisu, tiada senyum sapa sang rembulan sedikitpun.. sungguh menyedihkan malam ini, aku terhanyut di kesunyian malam, seolah-olah malam menemaniku dikesendirianku. Jalan tampak sepi, hiruk pikuk kota metropolitan berhenti sejenak, tiada kebisingan dan keributan malam. Semua sunyi tiada seorangpun yang mengganggu, ya.. disinilah aku, ku berjalan dikeheningan malam ditemani sayup-sayup angin yang merintih kesakitan, malam itu sungguh menyedihkan.. sampah-sampah di trotoar jalan menambah kepedihanku, kuberjalan tanpa arah tujuan, kuarungi jalan itu dengan penuh keresahan.
            Ku lihat dipojok kota itu, lampu-lampu taman bernyala-nyala.mengajakku kesana, disana ramai banyak orang bergaya-gaya disana. Ah tidak, ini sama saja tiada yang indah, semua tetap saja, kesedihanku tetap berlarut hingga mentari fajar datang. Ku telusuri sudut-sudut taman kota itu dengan seksama, mencari kehidupan baru yang tidak mungkin kucari, ku terus berjalan hingga tepat jam tanganku pukul  tiga pagi. Aku putus asa, apa yang kucari disini, semuanya berhias kesedihan. oh ini benar-benar menyedihkan, akulah manusia yang paling menderita di dunia ini.
            Tak sengaja pandanganku terarah ke lampu taman itu, seorang gadis duduk penuh pendritaan, apa yang dia lakukan di malam ini, wajahnya menunduk penuh penyesalan. Wajahnya nan anggun tertutup rambutnya yang panjang terurai tak karuan. Aku dekati gadis itu, bermaksud membantunya jika itu memang ia butuhkan, ataupun kalau tidak hanya memastikan kalau ia memang baik-baik saja. ia tak sadar aku berada tepat didepanya, lalu aku duduk disampingnya.” Halo nona apa kau baik-baik saja ? “ kataku. Dia diam membisu, tetap diposisi yang sama seperti tak ada kehadiranku disana. “Halo Non……” belum selesai aku bicara ia langsung menatapku penuh kesedihan, “Pergi kau sana ! jangan ganggu aku,kau tak tau apa yang kurasakan.. Pergi kau !”. gadis itu berkata dengan amarah yang menggebu-gebu, aku tersontak kaget, apa yang terjadi ? apa salahku .. aku hanya ingin membantunya saja, tetapi mengapa gadis itu mengeluarkan sumpah serapahnya kepadaku. Lalu gadis itu pergi begitu saja dengan linangan air matanya yang penuh akan kesedihan.
            Aku lalu pulang kerumahku, sepanjang jalan pikiranku terpaku pada wanita itu saja, entah apa yang aku pikirkan wajahnya yang cantik nan anggun selalu terngiang di benakku, oh bidadari kau sungguh malang. Malam itu aku sengaja datang ke taman itu lagi, ya dan benar gadis itu duduk ditempat yang sama dengan penuh kesedihan dan penyesalan, aku penasaran apa yang terjadi padanya, kenapa diamnya menunjukan sejuta rahasia. Dan sekali lagi aku mencoba untuk mencari tahu, dan mungkin aku bisa membantunya. Dengan rasa gugup aku tetap menghampirinya “Halo nona..”. kataku. Dan pandangannya pun tetap sama seperti kemarin saat aku menghampirinya, tetapi sebelum sumpah serapah itu keluar, aku segera berbicara terlebih dahulu agar gadis itu tau maksud baiku ini. “tenanglah nona, jangan marah.. sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku ingin membantumu, aku ingin menghiburmu, aku tak tega melihat tangismu yang penuh akan kesedihan, tak pantas wajahmu yang cantik itu kau hiasi dengan air mata kesedihan. aku siap membantumu, hapuslah air matamu itu”. Kataku penuh harap. Tiba-tiba ia menangis dengan sejadi-jadinya, aku bingung apa yang salah dengan ucapanku, sekali lagi aku hanya ingin menghiburnya dan membantunya saja. Aku yakin tak akan ada pria yang rela membiarkan gadis secantik dirimu menangis dengan penuh keseidhan. Begitupula denganku aku ingin membantumu, tetapi justru kau malah menangis sejadi-jadinya. Tetapi tiba-tiba kepalanya ia taruh tepat diatas pundakku, oh aku terkejut.. ternyata dia tidak marah padaku. “iya .. menangislah sejadi-jadinya jika itu yang kau mau, luapkanlah kesedihanmu di pundakku ini, aku rela membantumu semampu yang aku bisa. Aku tak akan membiarkanmu menangis sendiri, akupun akan meraskan kesedihanmu juga.”kataku.
            Pundakku basah oleh air matanya, lalu ku keluarkan tissue dari tasku untuknya. Ya ia sedikit lega.. akupun senang melihatnya.. “nona apa yang terjadi padamu ?” ku beratanya lagi.
            “Maafkan aku, mungkin kemarin aku memarahimu tapi sungguh itu diluar kendaliku, aku tak tau apa yang harus kulakukan, aku tak tahan dengan semua ini.. mengapa harus adikku, pada waktu itu, aku sedang  mengendarai motor bersama adiku, pada saat itu kami bergurau, tiba-tiba mobil tepat didepan kami, waktu begitu cepat, aku tak tu apa yang terjadi, kenapa harus adikku,, akulah kakak terbejat didunia ini, membunuh adiknya sendiri.. tapi kau sungguh baik, walaupun kemarin kau sudah kubentak namun kau tetap datang untuk membantuku dan menghiburku, aku sedikit lega.. terima kasih, sungguh kau memang pria yang baik” katanya. Sungguh kata-katanya  indah meresap kedalam nadiku. Setelah beberpa jam kami berbincang kamipun  pulang, sesampai dirumah .. oh iya siapa namanya .. aduh bodohnya dirimu andi, kau berbincang panjang lebar denganya tapi tak sempatkah kau bertanya namanya atau nomor handphonenya. Sungguh kau manusia paling bodoh didunia.
            Dikeesokan malam, aku mencoba ketaman itu lagi, malam itu sungguh menawan bintang dan rembulan menyapa dengan indahnya dikeheningan malam. Tapi tidak denganku , aku berharap gadis itu ada ditaman itu lagi, yaa mungkin ia tidak disana lagi , karna mungkin ia sudah tidak sedih lagi. Oh ternyata tidak, dia ada disana.. ditempat yang sama, dengan semangat kuhampiri ia, dan kali ini tentu aku tak ingin kelewatan lagi untuk bertanya namanya dan nomor HP nya, ia melihatku dan kali ini berbeda ia tersenyum dengan senyuman terindah didunia kepadaku, aku pun membalas senyuman itu dengan sewajarnya tanpa mengurangi harga diriku sebagai seorang lelaki.
            “Apa kau masih bersedih ? kenapa kau tetap disini ?” tanyaku penasaran.
            “Tidak” jawabnya singkat dan membuatku tambah penasaran.
            “Lalu ? apa yang kau lakukan disini malam-malam begini “ selidiku lagi untuk menjawab rasa penasaranku ini.
            “Aku menunggumu, wahai pria yang baik hatinya.” Sahut gadis itu dengan senyum manisnya itu.
Oh tidak kata-kata itu menyihirku, ku terdiam seribu bahasa. Sunggguh kebahagiaan ini sungguh tak terbendung lagi, tetapi aku dengan cepat menguasai tubuhku ini, aku harus tetap menjaga harga diriku ini, walaupun sungguh kata-kata itu membuatku senang tak terhingga.
“Terima kasih nona aku hanya ingin membantumu saja, oh iya kalau boleh tau siapa namamu  ? kita sudah lama berbincang tapi tidak tau nama masing-masing, namaku Andi, Andi Pratama. Dan kau?”
“Oh iya kau benar, namaku trina, Trina Widyasari.” Jawabnya singkat.
Kami pun terdiam, aku pun berpikir keras apa yang harus dibicarakan selanjutnya, sungguh aku kikuk kemakan sihir-sihirnya yang indah itu. Tiba-tiba dia memegang tanganku “hey Andi taukah kau, aku sungguh mencintaimu. Kau pria baik.. sungguhlah aku orang paling bahagia didunia jika aku memilikimu”. Katanya penuh harap.
Sungguh kata-kata itu membuatku sungguh bahagia, tak ada yang bisa merasakan kebahagiaanku ini, sungguh malam ini sangat bahagia, indahnya dunia kurasakan, kata-kata itu seolah-olah harapan baru bagiku, tapi diriku ini sunguh kikuk, aku terdiam dalam kebahagiaan ini, aku tak ingin membuatnya menunggu lama.
“Hey bidadariku, malaikatku, tanpamu hidupku tak berarti, kaulah cintaku.. dan mulai sekarang kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.”

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar