Sejarah Bahasa Arab Pra Islam (Masa Jahiliyyah)


            Bahasa Arab adalah bahasa yang berasal dari rumpun bahasa Semit. Teks-teks Arab telah ditemukan pada abad 3 M, namun sebelum masa itu apakah bahasa Arab belum ditemukan? Tentu saja tidak, tetapi jika kita telusuri lebih jauh lagi maka bahasa Arab akan bertemu pada rumpun bahasa yang lainya seperti bahasa Ibrani dan lain-lain. Para orientalis menegaskan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang berasal dari rumpun bahasa Semit yang masih terjaga hingga saat ini. Terdapat I’rab, kaidah dan jamak Taksir yang beragam dalam bahasa Arab. Banyak bunyi yang terdapat dalam bahasa Arab yang tidak kita temukan dalam bahasa Semit yang lainya.

            Pada masa Jahiliyyah, bahasa Arab menjadi perhatian yang besar bagi orang-orang Arab. Jahiliyyah bukan berarti bahwa orang-orang Arab memiliki kemampuan intelektual yang lemah, tetapi justru mereka telah memiliki peradaban yang maju mulai dari perdagangan, strategi berperang terutama dari aspek kesusastraan. Jahiliyyah disini maksudnya adalah orang-orang Arab yang masih dalam degradasi moral, mereka belum datangnya nabi, atau pun kitab suci. Jahiliyyah juga dikatakan sebagai ummiyun yaitu orang yang belum mengenal membaca dan menulis. Fokus pembahasan saya kali ini adalah bagaimana perkembangan bahasa Arab pada masa Jahiliyyah ini? Bahasa Arab memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai pengukur intelektualitas orang-orang Arab, disamping itu juga untuk menunjukan Nasab atau Nujum (Kuhhan), dan Penyambung antar kabilah sebelum berperang.

            Pengukuran tingkat intelektualitas orang-orang Arab diukur melalui seberapa pandai orang-orang Arab itu membuat Syair, mereka pun biasanya membahas tentang nasab (keturunan) dan Nujum (kuhhan), Kuhhan adalah ungkapan-ungkapan syair bahasa Arab yang memiliki kekuatan sihir. Nah, mungkin dari sini kita bisa tahu mengapa orang-orang kafir Quraisy dulu mengakatakan Alquran sebagai Kuhhan, mungkin karena bahasa yang digunakan Alquran sangat indah sehingga mampu mempengaruhi pendengarnya dan tak ada satu pun yang mampu membuat hal yang serupa. Sebelum berperang antar kabilah, ada pembacaan syair yang diwakili tiap kabilah oleh orang yang paling pandai bersyair di kabilah tersebut, fungsi syair ini bisa digunakan untuk menggugah semangat para tentara sebelum berperang dan membuat lawan kikuk atau takut dengan syair yang dibacakan lawan begitu pula sebaliknya. Begitulah mengapa syair Arab di zaman jahiliyyah ini sangat diperhatikan.

            Karl Bucher berpendapat bahwa syair Arab dahulu di buat karena orang-orang arab Badui mampu mendorong diri mereka untuk menciptakan lagu penghibur jiwa dan pengusir sepi, hal ini dikatakan melalui bagaimana kehidupan para orang-orang Arab Badui secara alami. Namun Th. Preuss membantah akan hal itu, tidak semua yang dikatakan tersebut benar, orang-orang Arab Badui membuat lagu-lagu atau syair-syair itu karena terjadi secara alamiah mereka dalam menghadapi keganasan kehidupan mereka sehingga terdapat dalam sebuah perasaan yang di ungkapkan melalui lagu. Karl Bucher pun menguatkan argumentasinya dengan mengatakan bahwa kembali pada tujuan awal pembentukan syair Arab, yaitu untuk mengejek musuh. Hal tersebut dapat kita ketahui bagaimana orang-orang Arab menjalani kehidupanya baik dari segi Geografisnya, Nomadisne orang-orang Arab dan kegemaran orang-orang Arab dalam berperang.

            Syair Arab biasanya berbentuk dengan corak sederhana tentang Flora, Fauna dan sosial, syair juga bisa digunakan untuk merayu seorang perempuan dan pujian untuk pahlawan. Bahkan ketika ada seorang laki-laki pandai bersyair dan mampu mempengaruhi sang ketua suku, sang ketua suku pun akan memberikan anak gadisnya kepada sang laki-laki, hal ini dinamakan Khitbah Imlak. Tidak hanya syair, Prosa juga menjadi perhatian besar orang-orang Arab masa Jahiliyah. Prosa pada masa jahiliyah memiliki redaksi yang indah yang terdapat dalam sajak-sajaknya. Prosa pun menggunakan majaz metaforis. Prosa juga tidak terdapat wazan ataupun berqafiyah tetapi kalimatnya yang pendek namun bermakna. Ketika prosa disampaikan dalam bentuk orasi prosa biasanya disampaikan dalam bentuk emosional dan meluap-luap.

            Mengkaji bahasa Arab masa Jahiliyah ini sangatlah luas, banyak aspek-aspek yang perlu dibahas mulai dari syair-syair dan prosa yang menjadi sumber dalam bahasa Arab ataupun mengakaji tujuh penyair mu’allaqat yang terdapat pada masa Jahiliyyah ini. Bahkan Philip K Hitty berpandapat dia tidak menemukan bangsa mana pun pada zaman tersebut yang memperhatikan aspek bahasa setinggi itu kecuali bangsa Arab. Semoga bermanfaat

Referensi
PhHitti, Philip K.2006.History Of Arab.Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta
Fachruddin, Azis Anwar.2017.Pengantar Sejarah dan Mazhab Linguistik Arab.Sidoarjo; Lisan Arabi

Kitab Fi al Lahjat al Arabiyyah karya Ibrahim Anis 
Share:

2 komentar:

  1. Kakak! Lain kesempatan di kasih endnote ya! Biar pembaca langsung tau darimana pengambilan sumbernya.

    Tulisannya bagus dan runtut sehingga enak bacanya. 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas masukanya, iya itu saya hanya ngasih referensi di akhir artikel soalnya penulisan diatas berdasarkan tulisan bebas saya yang berasal dari buku-buku diatas..

      terima kasih telah berkunjuung...

      Hapus