Resensi Novel Aroma Karsa Karya Dee Lestari



Identitas Buku

     ·  Judul buku : Aroma Karsa
     ·  Penulis : Dewi Lestari “Dee”
     ·  Penerbit : Mizan Media Utama
     ·  Tahun terbit : Maret 2018
     ·  Jumlah halaman : 686 halaman
     ·  Nomor edisi : ISBN 978-602-291-463-1






Sinopsis Novel
            Novel yang berjudul Aroma Karsa karya Dee Lestari ini kembali membuat penggemar novelnya kembali terpuaskan oleh kisah yang diangkat dalam novelnya ini. Melihat dari judulnya, secara umum novel ini mengisahkan tentang seorang anak yang bernama Jati Wesi yang memiliki indra penciuman yang sangat tajam melebihi kemampuan manusia biasanya. Ia pun mendapat tugas untuk mencari sebuah tanaman yang telah dicari selama bertahun-tahun. Tanaman tersebut hanya bisa dicari melalui aromanya saja dan hanya orang tertentu yang bisa menciumnya. Orang tersebut adalah Jati Wesi dan tanaman tersebut adalah Puspa Karsa.




            Kisah ini berawal dari seorang nenek bernama Janirah yang dahulunya merupakan tinggal di ndalem atau pernah tinggal di sebuah keraton, ia berhasil mendapatkan beberapa resep kecantikan keraton dan mewarisinya ke keturunannya. Namun, ada satu misteri yang belum nenek Janirah pecahkan yaitu tanaman Puspa Karsa. Karena umurnya yang sudah tua dan tak mampu lagi untuk mengungkap misteri itu. Ia pun mewasiatkannya kepada anaknya Raras. Bertahun-tahun kemudian Raras berhasil mendirikan perusahaan parfum terkenal hingga mancanegara yaitu Kemara. Berkat anaknya yang bernama Suma dengan kemampuan penciumannya yang hebat itu sehingga dapat menciptakan parfum yang disukai banyak orang.

            26 tahun sebelumnya Raras mengajak Suma dan beberapa tim lainnya memulai ekspedisi untuk mencari tanaman Puspa Karsa tersebut. Raras meyakini bahwa Suma lah orang pilihan tersebut yang bisa menemukan tanaman mistis itu Puspa Karsa. Seluruh artefak dan tulisan-tulisan sansekerta telah diteliti, mereka pun menemukan tempat dimana Puspa Karsa itu berada. Gunung Lawu, diyakini sebagai tempat dimana tanaman Puspa Karsa itu berada. Dengan didampingi  juru kunci Mbah To, mereka pun hampir menemukan tanaman itu. Tiba-tiba ditengah perjalanan ada beberapa makhluk menyerang mereka sebelum sampai pada tanaman tersebut. Mbah To dan beberapa tim yang lain meninggal, namun Raras dan Suma tetap selamat walaupun Raras harus menerima kelumpuhannya dan Suma yang penciumannya sakit akibat serangan tersebut.

            Bertahun-bertahun kemudian, ia menyusun lagi strategi untuk mencari tanaman tersebut, di Bantar gebang hidup seorang pemuda yang bernama Jati Wesi, lahir di pembuangan sampah, dengan ibunya yang meninggal dan ayahnya yang pada saat itu juga masuk penjara atas kasus pembunuhan. Akhirnya Jati Wesi tinggal dirumah Pak Nurdin. Jati harus bekerja dan memberi uang kepada pak Nurdin. Jati bekerja di Ruko Parfum Attarwala. Ia sangat disegani di tempat itu. Ia mampu meracik parfum yang hebat dengan indra penciumannya. Bahkan ia bisa mencium aroma yang tidak bisa diciumi manusia biasa. Kemudian ia mendeskripsikan bau itu serinci mungkin.

            Hingga pada akhirnya, Jati dituntut oleh perusahaan Parfum Kemara karena Jati telah melakukan plagiasi parfum milik perusahaan tersebut yaitu Puspa Ananta. Disinilah titik awal pertemuan Raras dengan Jati wesi, ia menawarkan kepada Jati apakah ia ingin dipenjara atau justru dikontrak oleh perusahaan Kemara seumur hidup. Jati tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran tersebut. Mendengar kesepakatan tersebut, membuat Suma salah satu orang penting di Perusahaan Kemara tidak terima dan cemburu atas perlakuan ibunya Raras terhadap Jati. Namun lambat laun atas pertolongan dan kebaikan Jati membuat Suma dapat menerima Jati di keluarga tersebut.  Beberpa bulan kemudian setelah jati bekerja dan meracik parfum di perusahaan Kemara. Misi pencarian tanaman Puspa Karsa direncanakan kembali.

            Pada perencanaan ini, asal muasal Jati mulai terkuak, ia pun mulai mencari sendiri darimana ia sebenarnya berasal. Ayahnya yang dipenjara dan dalam keadaan linglung tidak bisa menceritakan secara utuh kejadian tersebut. Akhirnya ia mendapatkan beberapa indikasi yang menjelaskan darimana ia berasal. Dengan sejumlah tim yang berangkat, Raras hanya menunggu di Villa dekat gunung Lawu. Mereka pun berangkat mendaki gunung Lawu melalui jalur tengah, jalur yang biasanya tidak digunakan para pendaki untuk mendaki. Kejadian 26 tahun itu kembali terjadi, sekumpulan hewan buas dan beberapa makhluk menyerang sekelompok orang tersebut. Namun tidak dengan Jati, ia memakan buah Manisrejo, dan seketika itu ia beralih ke dunia lain. Dunia dimana manusia biasa tak dapat menjangkaunya, dunia dimana Jati Wesi dan Suma berasal, dunia dimana Puspa Karsa tersebut berada.

            Disini Jati tau siapa sebenarnya keluarganya, ia merupakan keluarga para leluhur yang dulu melakukan mukso agar tak ada manusia lagi yang mencari puspa Karsa. Dahulu, Puspa Karsa digunakan sebagai alat perebut kekuasaan yang pada akhirnya disalahgunakan oleh sebagian kelompok masyarakat. Akhirnya mereka melakukan Mukso untuk menjaga Puspa Karsa tersebut. Kini Puspa Karsa telah ditemukan, dan ia mengincar Suma sebagai wujud manusia dan ingin kembali ke dunia manusia. Jati Wesi lalu merebut Suma dari Puspa Karsa dan melindungi Suma dari Puspa Karsa walaupun Jati tau apa resiko yang akan ia hadapi dikemudian hari.

Resensi Novel
            Melalui novel ini Dee Lestari mampu menjadikan indra penciuman sebagai inti cerita dalam keseluruhan kisahnya. Ia mampu mendeskripsikan sesuatu hingga sedetail mungkin. Cerita yang diangkat juga sangat menarik, ia mampu mengimajinasikan kehidupan atau kisah para kerajaan jawa dahulu kemudian dikolaborasikan dalam kehidupan modern. Dengan mengangkat kisah yang imajinatif, Dee lestari mampu mengisahkan hingga seolah-olah kisah tersebut benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Demi membuat seluruh alur cerita ini berkesinambungan, ia melakukan penelitian secara langsung ke Bantar Gebang, Gunung Lawu, hingga mewawancarai guru kunci gunung Lawu secara langsung agar dapat menjelaskan nilai realitas dalam novel tersebut. Bahkan ia rela belajar atau khusus mengikuti kursus meracik parfum untuk dapat memahami jenis-jenis dan tehnik dasar dalam meracik parfum.

            Terlepas dari mahakaryanya yang menarik itu, terdapat banyak istilah-istilah yang digunakan Dee Lestari yang membuat sebagian orang  mungkin tidak memahami makna istilah tersebut. Disamping itu juga, novel yang setebal 700 halaman itu membuat sebagian orang untuk berfikir ulang untuk membacanya, kecuali memang penggemar Dee Lestari ataupun bagi mereka yang menyukai novel yang bergenre novel Dee Lestari. Namun, diluar itu semua novel ini dapat memikat banyak pembaca atas de-ide yang ia tuangkan dalam novel tersebut.

            Demikianlah ulasan mengenai resensi novel yang berjudul Aroma Karsa karya Dee Lestari ini. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan yang terdapat dalam novel ini. Kisah yang diangkat dalam novel ini sangat menarik dan kisah yang diangkat menunjukan wajah baru dalam pernovelan Indonesia yang menarik untuk dibaca. Novel ini sangat direkomendasikan karena banyak hal-hal faktual dan mitos yang mungkin selama ini kita belum ketahui. Selamat membaca dan salam literasi.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar