Mengenal Ciri Disleksia Pada Anak



Tahukah teman-teman dengan film bollywood terkenal yaitu Taare Zaman Par? Film lawas yang diperankan oleh aktor kondang Amir Khan itu sungguh membuat kita terharu dan menangis akan alur cerita yang dibawa. Iya film tersebut menceritakan tentang seorang anak yang memiliki penyakit tertentu yang tak banyak diketahui oleh orang lain. Ia dicap sebagai anak yang bodoh dan lambat dalam belajar. Disamping itu juga ia tertekan oleh orang tuanya yang tidak mengetahui bakat terpendamnya. Akibat hal tersebut hati anak tersebut hancur dan tak tentu arah. Hingga pada akhirnya datanglah seorang guru yang diperankan oleh Amir Khan yang mengetahui penyakit anak tersebut dan mengobatinya berangsur-angsur hingga sembuh kembali. Pada akhirnya anak tersebut menemukan keahliannya dan bisa ceria kembali. Tahukah teman-teman apa penyakit yang diderita oleh anak tersebut? Iya.. penyakit yang diderita anak tersebut adalah penyakit Disleksia. Tak banyak yang tahu tentang penyakit ini, maka dari itu simak lebih lanjut tentang penyakit Disleksia ini ya.

Masih banyak dari kita yang belum tahu penyakit dengan nama Disleksia ini. Padahal Disleksia adalah gangguan pada penglihatan dan juga pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf yang ada di otak, sehingga anak megalami kesulitan membaca. Atau bisa juga diartikan sebagai ketidakmampuan belajar neurologis yang disebabkan ketidakmampuan atau penurunanan kemampuan otak dalam menerjemahkan informasi baik visual dan auditorial yang diterima oleh mata juga dan telinga kedalam bahasa yang dimengerti.  Anak anak dnegan disleksia bukan berarti buta atau tuli. Mereka mendangar, namun mereka tidak mampu menuliskanya pada kertas. Mereka hanya memahami kata-kata yang didengar, namun mereka kesulitan untuk menulis ulang dan juga bingung dengan susunan huruf-huruf. Atau ketika mereka sedang membaca, mereka sering kali melewatkan beberapa huruf, suku kata, bahkan kata dan juga frasa. Mereka membaca seolah huruf-huruf berlompatan dan terbolak – balik. 

Penyebab Disleksia adalah dari faktor genetis. Tidak harus langsung dari orangtua, namun bisa jadi dari buyut-buyut mereka kakek-nenek, Hampir 5%-10% anak-anak diseluruh dunia mengalami gangguan ini. Dan yang paling penting jangan sampai menyebut anak-anak dengan gangguan Diseleksia dini adalah anak yang bodoh. Karena faktanya anak anak disleksia sendiri justru memiliki IQ yang lebih tinggi daripada anak-anak normal. 

Pada dasarnya penyandang disleksia adalah seorang yang tajam secara visual, berintuisi tinggi dan seorang pemikir multidimensional.  Apa yang mereka alami merupakan kecacatan dalam sistem saraf mereka. Bukanlah cacat dalam kemampuan secara intelektual. Kesalahpahaman yang sering terjadi kalu menggap bahwa anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis, juga mengeja dengan benar adalah anak-anak bodoh dan juga pemalas. Namun jangan dulu nge-judge atau memvonis sebelum melakukan tes dan pemeriksaa dengan hasil yang kaurat. 

Mengetahui gejala awal anak-anak dengan gangguan disleksia, asalkan orangtua cermat memperhatikannya. Coba ambil sebuah buku cerita bergambar, lalu mintalah si kecil untuk menceritakan gambar yang ia lihat, Penyandang disleksia biasanya akan mengungkapkan dengan cerita tidak nyambung dengan gambarnya. Kemudian bacakanlah buku cerita itu dengan suara yang kerang dan berulang-ulang. Lalu minta si kecil untuk menceritakannya kembali. Jika ia masih menginterpresentasikannya dengan gambar dan cerita yang tidak nyambung, maka kemungkinan besar anak tersebut mengalami disleksia. Cara lain untuk mengenalinya bisa juga dengan memberikannya soal-soal secara lisan. Anak-anak disleksia mampu menjawab berbagai soal yang dibacakan atau diajukan secara lisan. Namun ketika menghadapi soal tertulis dengan soal yang sama, mereka mengalami kesulitan. 

Beberapa indikator lain, Seperti lambat mengeja dan membaca, atau sering kali merasa ragu dan juga tudak yakin. Melewatkan huruf, suku kata, kata bahkan frasa saat membaca dan menulis. Atau sering kali urutannya salah, Tidak seperti kata atau kalimat yang diperintahkan atau ingin ia tulis sendiri. bisa dilihat juga dari cara membaca saat mengabaikan tanda baca. Mampu menghubungkan kata per kata, namun saat diulangi atau saat menemukan kata yang sama mereka tidak mengenalinya lagi. juga melihat huruf seolah-olah mundur dan terbalik, Begitu juga saat menuliskannya. Ada pula yang suka membuat kata-kata sendiri yang tidak memiliki arti, mengalami sakit kepala atau sakit perut saat mengeja dalam waktu yang lama. 

Seoarang anak dinyatakan disleksia apabila mereka telah menjalani serangkaian tes khusus untuk para penyandang disleksia. Jika anda sudah membaca artikel diatas terdapat ciri di anak anda. Segera menghubungi psikolog agar dilakukan penanganan sejak dini.


You Might Also Like

27 Comments

  1. Ya ampun, film ini benar-benar bikin saya kuras air mata. Nangis terus sampai mata bengkak. Dari film ini juga saya tahu soal disleksia dan menurut saya mereka adalah manusia yang unik....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah nonton ya kak, emang bener kak filmnya bagus sekali.. untuk masyarakat Indonesia juga tak banyak yang tahu kk tentang penyakit ini.

      Hapus
  2. Menderita disleksia bukan berarti negatif ya. Hanya perlu perlakuan dan penanganan orangtua agar anak dapat memahami dirinya dg lebih baik saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, itu bukan negatif.. justru mereka rata2 punya IQ yg tinggi.. hanya saja butuh penanganan yg tepat

      Hapus
  3. Di unur berapa kiranya di tes gambar,
    tare zamen par. Sepertinya gambarannya nyambung.

    BalasHapus
  4. Belum nonton filmnya nih, mau berburu dulu ah, penasaran...

    BalasHapus
  5. Waah aku belum nonton nih

    Kadang emang jadi orang dewasa harusnya sabar ya kalau ngajarin anak, kalau dikira ngga ngerti2 ya bukan berarti bodoh .. mungkin ada yang perlu dipahami tentang anak tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yapp, bener banget mbak.. semoga saja bisa terus belajar dan belajar..

      Hapus
  6. Disleksia ya, sering mendengarnya tetapi tetap saja sulit untuk mengidentifikasinya jika sudah dilapanga

    BalasHapus
  7. Huwaaa...aku udah galfok di pembukaan tulisan. Ada babang amir khan. Jadi pengen nonton film2nya lg aku tuh. Belakangan memang film2 amir khan ini syarat dgn pendidikan yg patut di contoh.

    BalasHapus
  8. kalau orang tua paham cara mendidik anak disleksia, insyaAllah anak itu akan tumbuh menjadi anak yg hebat. anak temenku juga disleksia, ia tidak sekolah krn sekolah belum mau menampungnya, akhirnya si temen mendidik sendiri anaknya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh begitu ya kak, wah.. ternyata temen samean sendiri ada ya yg anaknya memiliki Disleksia

      Hapus
  9. aku gak suka film india. film india juga gak suka aku. tapi infonya bermanfaat, makasih mas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh.. kok begitu mbak, semacam ada pengalaman yg kurang begitu baik dengan film india mbak..
      Sama-sama mbak

      Hapus
  10. Film-nya menginspirasi. Kegigihan Salman Khan sebagai seorang guru patut dijadikan teladan oleh para pendidik. Selain itu memang banyak orang yang tidak paham dengan penyakit disleksia. Informasi ini perlu disebarkan agar masyarakat semakin paham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kira yang dimaksud Amir Khan ya mas? Hehe
      Betul mas sangat bermanfaat sekali..

      Hapus
  11. Pengetahuan yang bermanfaat. Terlepas dari ketidakmampuan anak membaca karena disleksia ini, baiknya orang tua tidak mempersempit kecerdasan hanya sebatas kecerdasan logika dan linguistik saja, jenis kecerdasan kan banyak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya setuju, takaran anak pintar itu bukan mereka yang pintar di bidang sains saja, tapi keilmuan lain juga bisa.

      Hapus
  12. Jadi ingat pernah nonton film ini. Keren banget filmnya dan bikin nangis. Oertama kali tahu tentang penyakit disleksia ya dari film ini.

    BalasHapus
  13. Film yang masuk folder dengan warning: Jangan Dihapus!!! Sebab masih sering pengen nonton. Orangtua harus peka dengan segala hal terkait anak, agar hal-hal kurang tepat terdeteksi dan teratasi sedini mungkin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sama, saya juga sudah nonton film ini berkali-kali saking bagusnya.. hehe

      Hapus

Top Categories