Ngejot, Wujud Nyata Toleransi Beragama di Pulau Bali


Sejak dahulu kehidupan sosial bermasyarakat antar umat beragama di pulau Bali sudah terjalin dengan baik satu sama lain. Kami yang beragama hindu, islam, kristen, budha ataupun lainnya sudah hidup rukun sejak dahulu dengan norma-norma yang ada. Pulau Bali merupakan mayoritas yang beragama Hindu. Populasi masyarakat Bali keseluruhan berjumlah 4.255.000 dengan masyarakat hindu berjumlah 3.247.283 jiwa dan muslim berjumlah 520.244 jiwa dan lainnya. Meskipun demikian kami dapat hidup saling berdampingan satu sama lainnya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui berbagai cara dalam kehidupan bersosial satu sama. Salah satu tradisi yang terkenal adalah Ngejot. Ngejot adalah salah satu wujud dari toleransi beragama di Tanah Bali.


dream.co.id
Apa yang dimaksud dengan Ngejot?

Ngejot adalah sebuah istilah yang berarti memberi makanan ke tetangga sekitar atau kerabat dekat yang berbeda agama. Tradisi ini biasanya dilakukan pada saat acara besar atau hari besar pada masing-masing agama. Jika dalam umat islam merayakan hari raya idul fitri dan pada umat hindu pada hari raya galungan dan kuningan. Tradisi ngejot biasanya dilakukan ketika menjelang ataupun pada saat hari raya tersebut berlansung. Bagi umat islam biasanya memberi makanan khas lebaran seperti opor ayam, ketupat dan lain-lain. Namun, untuk umat hindu biasanya sudah memahami dan menghargai larangan-larangan yang ada dalam agama islam, jadi ketika pada saat perayaan-perayaan hari besarnya, biasanya akan memberi makanan berupa kue-kue yang sudah jadi atau buah-buahan. Tradisi ini pun sudah berjalan sejak bertahun-tahun lalu dan masih terjaga eksistensinya hingga kini terutama berada di daerah pedesaan.

Contoh-Contoh Toleransi

Ngejot adalah salah satu wujud toleransi umat beragama di Bali, Ngejot biasanya dilakukan sebagai wujud bahagia atau suka cita atas hari raya yang dilakukan oleh tiap agama masing-masing dengan memberikan kebahagiaan mereka kepada orang lain dengan wujud memberi makanan ataupun buah-buhan. Banyak sebenarnya bentuk-bentuk lainnya sebagai contoh toleransi umat beragama di Bali. Mulai saling menjaga tempat peribadahan ketika sedang melakukan upacara agama. Ataupun ikut menjaga ketertiban ketika memasuki hari raya nyepi. Semua bentuk-bentuk toleransi tersebut telah terjaga dan masih berkembang hingga saat ini. Terlepas dari agama masing-masing, kami tetapi bisa menjalankan ibadah masing-masing tetapi juga tetap menjunjung rasa solidaritas keberagaman sebagai saudara setanah air.

Demikianlah ulasan saya mengenai tradisi ngejot di Pulau Bali ini, apapun tradisi yang kita lakukan semua hal tersebut bertujuan untuk menciptakan kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Terlepas dari ibadah yang kita lakukan sehari-hari, walaupun berbeda agama tetapi masyarakat Bali membuktikan bahwa mereka semua bisa hidup berdampingan dalam kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari. Itu tradisi di daerahku nih, lalu tradisi di daerahmu apa nih? Yuk, Share di kolom komentar Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat.

You Might Also Like

4 Comments

Top Categories