Istanbul, Kota dengan Sejuta Peradaban


Merhaba! Nazilsiniz Arkadazlar? Saya harap teman-teman semua selalu dalam keadaan baik dan semoga mimpi indahmu akan segera terwujud di waktu yang tepat. Tahukah teman? Aku pernah bermimpi, tinggi sekali, hingga aku pun merasa tak sanggup menggapainya. Bukan karena aku tidak bisa, tetapi karena diriku yang mengutuk mimpi dan tidak mempercayai mimpi itu hingga aku pun menghancurkan mimpiku bersama diriku dalam kegelapan yang sunyi. Ku diamkan mimpi itu, ku kunci rapat-rapat agar tak satu orang pun mengetahui mimpiku ini. Kemudian Aku berpikir kembali, kau yakin akan menutupi mimpimu ini? lalu bagaimana dengan orang lain yang memiliki mimpi yang serupa denganmu, maukah kau membiarkan orang lain itu gagal sepertimu? Bukankah, dengan menceritakan kisahmu ini, maka justru bisa membuat orang lain lebih termotivasi lagi menggapai mimpinya. Melalui perseteruan yang panjang antara egoku dan jiwaku, akhirnya aku pun memutuskan kepada kalian yang mungkin sedang berada di posisiku ataupun yang sedang bermimipi, semoga kau bisa meraih mimpimu. 

Tahukah sahabat? Enam tahun lalu aku pernah bermimpi, mimpi seorang anak desa di ujung pulau Bali sana. Berharap dapat melangkahkan kaki di daratan syurgawi, menghirup udara dalam aroma mewangi, melihat tiap sudut tempat yang bahkan mataku pun mungkin tak sanggup menyaksikan keindahannya. Tepat, di tengah-tengah hamparan bumi ini, terdapat sebuah wilayah yang subur tanamannya, makmur negaranya, dan kaya akan peradabannya. Bagaiamana tidak? Wilayah ini pernah dikuasai oleh tiga kekaisaran dunia pada masanya yaitu Romawi, Byzantium, hingga Kekaisaran Ottoman. Iya, Istanbul.. kota elok nan indah yang bisa kau saksikan dari tiap sudut manapun keindahannya. Hei cah ndeso.. kamu jangan ngimpi, kerjaanmu itu bantu abahmu di ladang, bukan bermimipi. Mimpi yang telah aku bangun tiba-tiba runtuh begitu saja, sekali lagi aku menghancurkan mimpiku dengan kata-kata itu. 

Jangan kau tanyakan padaku tentang Kekaisaran Bizantium, Istana megah Blachernae yang dibangun atas perintah kasiar Theodosius kedua itu berdiri tegak bak miniatur dunia, jangan kau tanya masjid biru Sultan Ahmed itu. Masjid indah nan megah berlapis mozaik-mozaik yang menyilaukan mata, membuat mataku tak berdaya dan tak sanggup mengedipkan mata. Aku rindu menyaksikan kemerlap lampu yang indah di Jembatan Bosphorus dikala malam hari datang, lautannya memberi salam padaku. “Selamat malam wahai anak muda, kemarilah.. buktikan mimpimu itu”. Rindu? Pantaskah aku merindu? Bahkan memikirkanmu saja aku tak pantas sama sekali, ke sekian kalinya aku merobek-robek impian itu. Tahukah kau? Hanya ada dua sebutan untuk gadis Turki yaitu cantik dan cantik sekali, hahaha. Aku pun berpikir untuk memacari gadis Turki, terdapat seorang gadis yang berasal dari Kota Sanli Urfa daerah Turki Timur. Kami kenal di Facebook, setiap hari kami bercerita satu sama lain tentang banyak hal, bahkan saling memberi foto pribadi dan keluarga. Senyumnya manis sekali, wajahnya cantik putih berseri. Namun, satu pertanyaan yang mebuat pesan kami berakhir. “Kapan kau ke Turki Dzikrul?”. Aku terdiam, aku hanya bisa membacanya tanpa membalasnya. 

Sepucuk Surat Untuk Ibu

Teruntuk Ibunda yang bangga akan anaknya
Ibu ...
Aku tulis surat ini untukmu, 
Tahukah Ibu, 
Anakmu ini sedang bermimipi, Tinggi Sekali ...
Tahukah ibu, Apa mimpi anakmu ini? 
Iya, menjejakkan kaki di tanah Turki
Stop dulu Ibu! bukan aku mau durhaka melarangmu berbicara
Tapi, aku tahu apa yang akan kau ucapkan
Engkau pasti akan melarang dan berkata
“Sadarlah nak, kamu hanya orang desa”.
“Belajar yang rajin dan bermanfaatlah untuk desamu ini”.
Baiklah ibu, aku tak akan mebnantahmu lagi.
Tapi jangan pernah kau tanya hatiku.
Bahkan ketika hati kecilku berbicara 
Mimpi-mimpi itu akan hadir kembali
Iya, mengunjungi tanah Turki, suatu saat nanti

Salah Langkah dan Harapan yang Pupus

Aku mempunyai seorang teman dekat, namanya Adi. Kami selalu membahas tentang Turki baik dari segi keindahannya, ekonominya, politiknya hingga konflik yang terjadi di sana. Bahasan kami tentang Turki tak ada habisnya, keinginan kami untuk ke Turki tinggi sekali. Pada suatu hari, salah satu instansi di Turki sedang membuka sebuah beasiswa bagi anak-anak muda yang ingin menempuh pendidikan di tanah Turki. Kami senang bukan kepayang, semua persiapan jauh-jauh hari telah kami siapkan. Kami saling memotivasi, mebantu membuat sampai menerjemahkan esay bersama-sama hingga masa pendaftaran pun datang. Pada saat akan mendaftar, Adi menasehatiku agar meminta izin dan doa kepada orang tua terlebih agar dimudahkan dan berhasil. Aku sedikit ragu atau bahkan sangat ragu. Aku yakin apa jawabannya, alhasil aku pun mencoba, apa salahnya mencoba? Siapa tahu kali ini aku akan berhasil membujuknya. Ah, ternyata aku salah, Beliau tetap pada pendiriannya dan aku hanya bisa menyerah dan memendam mimpi itu sedalam-dalamnya.


Sebulan kemudian sebuah pesan masuk ke E-mail Adi, isinya kurang lebih menjelaskan bahwa ia diterima atau lolos seleksi berkas tersebut dan minggu depan diminta untuk datang ke kantor Kedubes Turki di Indonesia untuk melakukan tes wawancara. Kami sangat senang, bahkan aku pun yang tak ikut mendaftar juga ikut senang. Dalam benakku, setidaknya walaupun aku tidak berangkat tetapi teman dekatku bisa berangkat ke Turki. Kini ia sedang berada di Isparta, mahasiswa semester empat  dan mengambil jurusan Teologi Islam di salah satu kampus di Isparta, Turki. Apa yang aku pikirkan kemudian, hati kecilku tiba-tiba mendobrak memaksa keluar dan unjuk diri. Membuatku berpikir kembali, bagaimana jika aku mendaftar tanpa sepengetahuan mereka.. pasti aku akan sama nasibnya seperti Adi saat ini. Ah, sudahlah .. mungkin kau benar kau hanya seorang bocah desa yang harus membangun desanya terlebih dulu.

Bermimpilah dan Yakinlah Bahwa Mimpimu akan Menjadi Kenyataan

Jangan kau tanya aku, mengapa kau begitu sangat dan teramat ingin pergi ke sana?. Bahkan tulisan ini pun tidak bisa sepenuhnya mewakili betapa inginnya aku kesana, tetapi ketahuilah Turki adalah tempat yang harus kau kunjungi selama masih diberi nikmat hidup. Kau akan berlajar banyak hal tentang makna hidup dari Turki. Hagia Shopia, tempat dimana bukti sejarah Islam pernah berkembang di sana, Masjid Sultan Ahmet yang masjidnya pernah hampir menyaingi keindahan Ka’bah, atau bahkan Byzantium dengan istana megahnya Blachernae, Aku tertarik dengan mitos nazar buncugu, yang banyak kau temui di Cappadocia, atau aku juga ingin menyaksikan keseluruhan kota turki dari atas menara Galata, atau juga belajar sejarah Rumi, iya Jalaludin Rumi, Bapak penyair dunia yang karyanya masih terkenang hingga saat ini, yang masih menjadi bacaan para satrawan bahkan kaum intelektual. Aku juga tertarik dengan dunia modern Turki, bagaimana Erdogan berusaha memperjuangkan kemanusiaan dunia, atau bahkan bagaimana ia bisa mengalahkan Rusia sebagai negara paling berpengaruh di Eropa. Aku juga ingin memakan kue favorit Turki Baklava, Borek, ataupun Dolma dengan secangkir teh hangat Turki sembari duduk di pinggir sungai Bhosporus menyaksikan keindahan senja di sore hari. “Hoca..” aku rindu panggilan itu, semoga kelak ada seorang anak yang memanggilku dengan sebutan itu. Oh iya.. Tari Darwis, tarian spiritual yang bisa memikat banyak orang dan bahkan telah dipelajari banyak orang di dunia. Alasan apa lagi yang harus aku ceritakan tehadap negara yang dulunya bahkan pernah menguasai sepertiga dunia ini. Sampai-sampai Napoleon Bonaparte pun pernah berkata jika ada satu daerah yang menjadi ibu kota dunia. Maka yang pantas mendudukinya hanyalah Istanbul, Turki. 

Jadi, Kawan siapapun dirimu, bermimpilah! Kemanapun mimpimu, yakinlah! Jika kau berada di posisi sepertiku, bangkitlah! Tahukah kamu, walaupun aku pernah melewatkan mimpiku yang hanpir menjadi kenyataan itu, tetapi sampai sekarang pun aku masih bermimpi dan yakin, kelak aku bisa menjejakkan kakiku di tanah Turki. Sebuah negara dengan sejuta peradaban yang luar biasa. 

You Might Also Like

2 Comments

  1. Sebuah tulisan berisi mimpi yang dalam. Jujur, saya sempat merinding pada beberapa penekanan kalimat. Kalian dua orang sahabat yang keren. Hal ini mengajarkan aku satu hal: tak ada yang salah dari bermimpi. Pastinya harus tetap berusaha dan yakin kalau mimpi itu bisa tercapai. Aku pernah baca, raihan orang2 sukses juga berawal dari mimpi.

    Sedikit masukan, alangkah lebih baik satu paragraf yang terlampau banyak barisnya bisa dibagi menjadi dua atau tiga paragraf. Bukan mau menjatuhkan, tapi memberi masukan yang membangun. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih mas atas kunjungannya, padahal ini potongan ndak saya sebarkan kemana2, tapi sampean malah membaca ini.

      Siap mas, terima kasih atas masukannya

      Hapus

Top Categories